Minggu, 28 Juli 2013

Hidangan Makan Malam


Namaku Zai, cukup itu saja karena aku hampir tidak ingat nama panjangku. Kalau aku tanya Elgo pasti dia akan ingat. Tapi aku tidak ingin tau, biar saja begini. Toh tak ada yang peduli juga. Aku tengah berdiri dengan sedikit membungkuk bertumpu di selusur beranda. Seperti biasa aku sedang mengamati bulan yang terlihat begitu indah.

Sedangkan dibawah sana, anak-anak kos yang terdiri dari mahasiswa dan orang kerja tengah seru-seruan. Sedikit berisik tapi tidak sampai level mengganggu, mereka tau aturan utama tempat ini. Aku ingin bergabung tapi aku merasa sudah terlalu tua untuk have fun. Tidak usah tanya berapa usiaku, aku sendiri lebih merasa seperti bapak-bapak. Masih mendinglah daripada Yeni yang sudah sesepuh.

Sepertinya bulan pun sudah bosan kupandang lirih, aku berbalik menuju ruanganku. Sebuah ruangan di paling ujung bangunan, bukan tempat istimewa sih cuma sebuah ruangan dengan piano. Piano tua pemberian ayahku namun masih berfungsi dengan baik. Setelah kukunci pintu segera saja aku beraksi, tapi sayang lagu yang aku bisa cuma Stairway To Heaven-nya Apocalyptica. Kata beberapa orang sih itu lagu pemujaan setan, tapi aku tidak peduli.

Alunan musik piano ini mulai berdentang, seperti jam besar yang berbunyi tiap jam 12. Aku menikmati waktu seperti ini sendiri saja. Sambil meresapi melodi lagu yang terkesan angker.
“Kamu selalu payah memainkan piano,” sebuah suara terngiang di telingaku seperti bisikan.
Aku berusaha mengabaikannya dan tetap konsentrasi konser, namun suara itu semakin lama semakin nyata. Membuatku semakin terganggu.
“Padahal ayahmu mantan musisi,” suara itu muncul lagi disertai suara derap langkah mendekat.
 Ku hentak seluruh jariku ke tuts piano, menghasilkan suara bang yang menggelegar. Aku masih tidak mau menoleh, kubiarkan saja dia datang menghampiri.

Senin, 08 Juli 2013

Catatan Usang si Bocah Tengil



Aku memandang sebuah kardus cokelat besar di lantai. Barangku tidak terlalu banyak jadi satu kardus saja cukup. Entah kenapa mataku masih belum beranjak dari benda kotak itu. Ingatanku masih terus membuka potongan-potongan kenangan, yang kini menyebalkan bagiku. Aku memutuskan membuat kopi susu lagi, masih menggunakan cangkir yang sama.

Kutatap sebuah bingkai foto Fajar yang lupa kumasukan. Ini adalah pertama kalinya aku begitu tergila-gila kepada laki-laki. Foto itu kuletakan diatas kardus cokelat supaya tidak lupa. Aku masih tidak percaya bahwa perasaan ini hanya pengaruh pelet.

Rabu, 03 Juli 2013

Project Dua (lembar dua puluh tiga)



Setelah tiga hari ini, kondisiku mulai membaik. Aku sudah bisa bergerak dan berjalan dengan leluasa, meski pandanganku sering nge-blur. Tapi ini perkembangan yang cukup bagus, begitu kata Zai. Well, sebenarnya ini tidak lepas dari peran Denis. Anak itu merawatku dengan sabar, telaten dan... cinta. Kedengarannya memang agak konyol, tapi itulah yang aku rasakan. Denis sedang mencoba membuktikan kata-katanya.

Perlu kugaris bawahi, tidak cuma Denis yang berperan tapi ada Zai, Elgo, Yeni, Zidan, Erni, Mala, Akbar dan lain-lain. Beberapa nama yang agak asing itu adalah saudara-saudaranya Elgo. Kalau aku sebut satu persatu akan menimbulkan deret silsilah keluarga, terlalu banyak. Mereka cukup ahli di bidang medis, bahkan yang namanya Zidan dan Erni kuliah jurusan kedokteran. Kedua orang tua Elgo juga sesekali menengokku (ya, iyalah! Ini kan rumah mereka). Bisa kusimpulkan mereka adalah orang-orang yang ramah dan baik.

Sekedar informasi, beberapa nama asing yang tadi kusebut adalah sepupunya Elgo. Mala dan Akbar diasuh orang tua Elgo sejak kecil. Orang tua mereka tergolong orang tidak mampu yang punya banyak anak. Secara tidak langsung keduanya jadi kakak dan adiknya Elgo, apalagi Elgo anak tunggal. Sedangkan rumah Zidan dan Erni tepat di sebelah rumah Elgo.

Elgo pun menyadari jika mengobrol denganku, akan ada sepasang mata jealous mengawasi kami. Jadi dia kalau mengobrol saat Denis tidak di kamar atau ketika ada banyak orang. Yang aku heran dari Elgo, mata kirinya masih saja diperban seolah tidak punya harapan sembuh. Lama-lama aku akan menghadiahinya tutup mata bajak laut.

Senin, 24 Juni 2013

Project Dua (lembar dua puluh dua)

android wallpaper

:: Fajar ::

Aku membuka mataku, rasa pening langsung saja menyerang kepalaku. Ah! Lagi-lagi membuka mata, seolah hobiku ini tidur, pingsan dan tak sadarkan diri. Kucoba gerakan jemariku, dan berhasil. Sekarang kedua kakiku, berhasil juga. Kondisi ini jauh lebih baik daripada yang terakhir diserang ular siluman. Tiba-tiba aku merasa tubuh ini berat, seperti ada beban yang menimpaku. Sedikit berat tapi aku merasa nyaman.

Kurasa bukan beban yang ditimpakan ke tubuhku, tapi ada seseorang yang sedang memelukku. Erat sekali. Pelukan yang sangat aku kenal, bahkan aku tidak asing dengan aroma tubuhnya. Aku memicingkan mataku, pandanganku masih agak samar dan telingaku juga sedikit berdengung. Pelukan ini perlahan mengendur dan aku bisa melihat orang yang tadi memelukku.
“Denis,” gumamku, mulutku bergerak tanpa mengeluarkan suara.

Minggu, 23 Juni 2013

Project Dua (lembar dua satu)



“Apa kamu sudah pulih, Yen?” tanya Zai berusaha bangkit dengan tangannya.
“Setidaknya aku perlu dua jam untuk pulih,” sahut Yeni yang sedang memejamkan mata. “Kemudian kita sudah menjadi daging bakar.”
Zai mendesah pelan, dia yang sudah setengah bangkit jadi membanting tubuhnya. Matanya menatap langit-langit penuh pipa gas yang mulai terbakar.

“Kamu sendiri bagaimana?” tanya Yeni.
“Aku diracuni oleh si brengsek,” jawab Zai dengan nada malas. “Dia pikir vampir kali, dengan menggigitku bisa mengubahku jadi manusia abadi? Yang ada aku perlu sekitar enam jam untuk menetralisir bisa gigitannya.”

“Enam jam kita sudah menjadi abu kremasi,” gumam Yeni menggelengkan kepalanya.