Rabu, 05 November 2014

Pulang, part 3


~Hilmi

Lempar-tangkap-lempar-tangkap. Itu yang sejak tadi kulakukan dengan ponselku. Bukan merek yang mahal tapi tahan banting, sering menjadi korban kebiadabanku. Aku sedang berpikir untuk menelpon Bobby. Telepon atau tidak? Sebaiknya telepon sajalah. Sekali lagi kulempar ponselku, tapi sayang tanganku kurang gesit. Alhasil ponsel itu lolos dan jatuh dengan keras sampai casing & baterainya terlepas.

“Sial!” umpatku. Segera kupungut benda itu dan kusatukan kembali.

Rupanya nasib buruk masih menghinggapiku, ponsel ini tidak mau menyala. Aku mendengus, kucabut baterainya lalu kucoba nyalakan kembali. Dan masih tetap sama.

“Bangsat!” aku mulai bersumpah serapah.

Senin, 20 Oktober 2014

Pulang, part 2.1



~Bobby


Ponselku berdering-dering, tak jauh dari tempatku bergumul. Hilmi sedang melakukan serangan fajar. Aku bisa menjangkaunya namun Hilmi tidak membiarkanku. Aku sengaja membawa ponsel untuk alarm pagi. Sementara Hilmi semakin keras “menyerang”ku, tapi tidak mengurungkan niatku untuk meraih ponselku. Sekadar mengintip siapa yang menelpon pagi-pagi.

My Mom is calling.....


Nafsu yang menyelimutiku langsung hilang, aku berusaha menghentikan aktifitas ini. Tidak peduli Hilmi berusaha menyeretku kembali untuk fokus. Dia akhirnya menyerah ketika ponselku berhenti berdering. Aku langsung menelpon balik.
“Kamu dimana, Bi? Mama di kostan kamu lho?” suara mamaku, terdengar dia agak kesal.
“Lagi nginep di rumah teman, mah!” jawabku dengan nada sedikit terengah.
“Kok suara kamu kayak ngos-ngosan gitu?” tanya mama. Naluri mama sangat tajam.
“Abis main basket,” jawabku, kulirik Hilmi yang tampak buas karena perbuatanku.
“Yaudah, kamu kesini sekarang!” kata mama. Sebuah perintah yang tak bisa kutolak.
“Oke,” jawabku.

Hilmi memelukku sambil menciumi leherku, dia tidak akan rela kalau sudah kelewat tanggung begini.
“Mamaku datang, aku harus kesana sekarang!” kataku mencoba menolak.
“Ibu suri bisa menunggu sebentar,” bisik Hilmi sambil mengunciku.
“Hei, ayolah! Kamu tahu sifat mamaku kan?” ujarku lagi.
Sialnya dia berhasil menyentuh beberapa titik lemahku, aku akhirnya bertekuk lutut.

Rabu, 24 September 2014

Pulang, part 2



:: Part 2 ::


Hai Bobby,

Beberapa hari lagi kamu akan ulang tahun kan? Aku akan datang kesana. Kebetulan aku punya kesempatan cuti empat hari.

 Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku rindu sekali padamu, tahu nggak? Seperti terngiang lagu Home-nya West life. Kamu pasti jauh lebih tampan dari yang difoto.

 Siapkan sambutan yang meriah ya, hehehe. Aku akan datang sekitar tanggal 26. Mudah-mudahan pacarmu tidak keberatan aku meminjammu selama beberapa hari.
 
Maaf, surat ini kubalas terlalu singkat. Topik-topik yang kemarin sengaja kusimpan untuk kita obrolkan saat bertemu nanti. Sampai jumpa di kamar kostmu ya.

Salam bajak laut

 

Hilmi Agustian

 

Senin, 15 September 2014

Pulang



:: Part 1 ::


“Saya mau beli yang itu mbak!” ujarku kepada seorang pramuniaga toko handphone.

Mbak pramuniaga itu menoleh, lalu tersenyum saat melihatku. “Oalah, jadi mas yang ini?”

“Jadilah,” sahutku. “Udah sering ngeliat, nanya-nanya, megang-megang. Masak nggak jadi?”

Dia pun mengangguk kemudian menyiapkan pesananku. Sempat kulihat namanya Sherli dari ID Card-nya.

 

Setelah transaksi, akhirnya satu unit iPhone 5S gold bisa kubawa pulang. Sebelumnya aku memang sering mampir ke toko ini, melihat-lihat ponsel itu. Sampai pramuniaga yang bernama Sherli itu mungkin hafal wajahku. Harganya mahal memang, tapi untungnya Sherli memberi tahuku untuk promo akhir tahun. Lumayan kan?

“iPhone-nya buat mas?” tanya Sherli saat pengetesan unit.

“Bukan, buat pacar saya,” jawabku.

“Wah, beruntung banget ya pacar mas. Dibeliin iPhone,” celetuk Sherli sambil tersenyum seolah membayangkan.

Aku cuma tersenyum.

 

Minggu, 28 Juli 2013

Hidangan Makan Malam


Namaku Zai, cukup itu saja karena aku hampir tidak ingat nama panjangku. Kalau aku tanya Elgo pasti dia akan ingat. Tapi aku tidak ingin tau, biar saja begini. Toh tak ada yang peduli juga. Aku tengah berdiri dengan sedikit membungkuk bertumpu di selusur beranda. Seperti biasa aku sedang mengamati bulan yang terlihat begitu indah.

Sedangkan dibawah sana, anak-anak kos yang terdiri dari mahasiswa dan orang kerja tengah seru-seruan. Sedikit berisik tapi tidak sampai level mengganggu, mereka tau aturan utama tempat ini. Aku ingin bergabung tapi aku merasa sudah terlalu tua untuk have fun. Tidak usah tanya berapa usiaku, aku sendiri lebih merasa seperti bapak-bapak. Masih mendinglah daripada Yeni yang sudah sesepuh.

Sepertinya bulan pun sudah bosan kupandang lirih, aku berbalik menuju ruanganku. Sebuah ruangan di paling ujung bangunan, bukan tempat istimewa sih cuma sebuah ruangan dengan piano. Piano tua pemberian ayahku namun masih berfungsi dengan baik. Setelah kukunci pintu segera saja aku beraksi, tapi sayang lagu yang aku bisa cuma Stairway To Heaven-nya Apocalyptica. Kata beberapa orang sih itu lagu pemujaan setan, tapi aku tidak peduli.

Alunan musik piano ini mulai berdentang, seperti jam besar yang berbunyi tiap jam 12. Aku menikmati waktu seperti ini sendiri saja. Sambil meresapi melodi lagu yang terkesan angker.
“Kamu selalu payah memainkan piano,” sebuah suara terngiang di telingaku seperti bisikan.
Aku berusaha mengabaikannya dan tetap konsentrasi konser, namun suara itu semakin lama semakin nyata. Membuatku semakin terganggu.
“Padahal ayahmu mantan musisi,” suara itu muncul lagi disertai suara derap langkah mendekat.
 Ku hentak seluruh jariku ke tuts piano, menghasilkan suara bang yang menggelegar. Aku masih tidak mau menoleh, kubiarkan saja dia datang menghampiri.