Rabu, 24 September 2014

Pulang, part 2



:: Part 2 ::


Hai Bobby,

Beberapa hari lagi kamu akan ulang tahun kan? Aku akan datang kesana. Kebetulan aku punya kesempatan cuti empat hari.

 Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku rindu sekali padamu, tahu nggak? Seperti terngiang lagu Home-nya West life. Kamu pasti jauh lebih tampan dari yang difoto.

 Siapkan sambutan yang meriah ya, hehehe. Aku akan datang sekitar tanggal 26. Mudah-mudahan pacarmu tidak keberatan aku meminjammu selama beberapa hari.
 
Maaf, surat ini kubalas terlalu singkat. Topik-topik yang kemarin sengaja kusimpan untuk kita obrolkan saat bertemu nanti. Sampai jumpa di kamar kostmu ya.

Salam bajak laut

 

Hilmi Agustian

 

Senin, 15 September 2014

Pulang



:: Part 1 ::


“Saya mau beli yang itu mbak!” ujarku kepada seorang pramuniaga toko handphone.

Mbak pramuniaga itu menoleh, lalu tersenyum saat melihatku. “Oalah, jadi mas yang ini?”

“Jadilah,” sahutku. “Udah sering ngeliat, nanya-nanya, megang-megang. Masak nggak jadi?”

Dia pun mengangguk kemudian menyiapkan pesananku. Sempat kulihat namanya Sherli dari ID Card-nya.

 

Setelah transaksi, akhirnya satu unit iPhone 5S gold bisa kubawa pulang. Sebelumnya aku memang sering mampir ke toko ini, melihat-lihat ponsel itu. Sampai pramuniaga yang bernama Sherli itu mungkin hafal wajahku. Harganya mahal memang, tapi untungnya Sherli memberi tahuku untuk promo akhir tahun. Lumayan kan?

“iPhone-nya buat mas?” tanya Sherli saat pengetesan unit.

“Bukan, buat pacar saya,” jawabku.

“Wah, beruntung banget ya pacar mas. Dibeliin iPhone,” celetuk Sherli sambil tersenyum seolah membayangkan.

Aku cuma tersenyum.

 

Minggu, 28 Juli 2013

Hidangan Makan Malam


Namaku Zai, cukup itu saja karena aku hampir tidak ingat nama panjangku. Kalau aku tanya Elgo pasti dia akan ingat. Tapi aku tidak ingin tau, biar saja begini. Toh tak ada yang peduli juga. Aku tengah berdiri dengan sedikit membungkuk bertumpu di selusur beranda. Seperti biasa aku sedang mengamati bulan yang terlihat begitu indah.

Sedangkan dibawah sana, anak-anak kos yang terdiri dari mahasiswa dan orang kerja tengah seru-seruan. Sedikit berisik tapi tidak sampai level mengganggu, mereka tau aturan utama tempat ini. Aku ingin bergabung tapi aku merasa sudah terlalu tua untuk have fun. Tidak usah tanya berapa usiaku, aku sendiri lebih merasa seperti bapak-bapak. Masih mendinglah daripada Yeni yang sudah sesepuh.

Sepertinya bulan pun sudah bosan kupandang lirih, aku berbalik menuju ruanganku. Sebuah ruangan di paling ujung bangunan, bukan tempat istimewa sih cuma sebuah ruangan dengan piano. Piano tua pemberian ayahku namun masih berfungsi dengan baik. Setelah kukunci pintu segera saja aku beraksi, tapi sayang lagu yang aku bisa cuma Stairway To Heaven-nya Apocalyptica. Kata beberapa orang sih itu lagu pemujaan setan, tapi aku tidak peduli.

Alunan musik piano ini mulai berdentang, seperti jam besar yang berbunyi tiap jam 12. Aku menikmati waktu seperti ini sendiri saja. Sambil meresapi melodi lagu yang terkesan angker.
“Kamu selalu payah memainkan piano,” sebuah suara terngiang di telingaku seperti bisikan.
Aku berusaha mengabaikannya dan tetap konsentrasi konser, namun suara itu semakin lama semakin nyata. Membuatku semakin terganggu.
“Padahal ayahmu mantan musisi,” suara itu muncul lagi disertai suara derap langkah mendekat.
 Ku hentak seluruh jariku ke tuts piano, menghasilkan suara bang yang menggelegar. Aku masih tidak mau menoleh, kubiarkan saja dia datang menghampiri.

Senin, 08 Juli 2013

Catatan Usang si Bocah Tengil



Aku memandang sebuah kardus cokelat besar di lantai. Barangku tidak terlalu banyak jadi satu kardus saja cukup. Entah kenapa mataku masih belum beranjak dari benda kotak itu. Ingatanku masih terus membuka potongan-potongan kenangan, yang kini menyebalkan bagiku. Aku memutuskan membuat kopi susu lagi, masih menggunakan cangkir yang sama.

Kutatap sebuah bingkai foto Fajar yang lupa kumasukan. Ini adalah pertama kalinya aku begitu tergila-gila kepada laki-laki. Foto itu kuletakan diatas kardus cokelat supaya tidak lupa. Aku masih tidak percaya bahwa perasaan ini hanya pengaruh pelet.

Rabu, 03 Juli 2013

Project Dua (lembar dua puluh tiga)



Setelah tiga hari ini, kondisiku mulai membaik. Aku sudah bisa bergerak dan berjalan dengan leluasa, meski pandanganku sering nge-blur. Tapi ini perkembangan yang cukup bagus, begitu kata Zai. Well, sebenarnya ini tidak lepas dari peran Denis. Anak itu merawatku dengan sabar, telaten dan... cinta. Kedengarannya memang agak konyol, tapi itulah yang aku rasakan. Denis sedang mencoba membuktikan kata-katanya.

Perlu kugaris bawahi, tidak cuma Denis yang berperan tapi ada Zai, Elgo, Yeni, Zidan, Erni, Mala, Akbar dan lain-lain. Beberapa nama yang agak asing itu adalah saudara-saudaranya Elgo. Kalau aku sebut satu persatu akan menimbulkan deret silsilah keluarga, terlalu banyak. Mereka cukup ahli di bidang medis, bahkan yang namanya Zidan dan Erni kuliah jurusan kedokteran. Kedua orang tua Elgo juga sesekali menengokku (ya, iyalah! Ini kan rumah mereka). Bisa kusimpulkan mereka adalah orang-orang yang ramah dan baik.

Sekedar informasi, beberapa nama asing yang tadi kusebut adalah sepupunya Elgo. Mala dan Akbar diasuh orang tua Elgo sejak kecil. Orang tua mereka tergolong orang tidak mampu yang punya banyak anak. Secara tidak langsung keduanya jadi kakak dan adiknya Elgo, apalagi Elgo anak tunggal. Sedangkan rumah Zidan dan Erni tepat di sebelah rumah Elgo.

Elgo pun menyadari jika mengobrol denganku, akan ada sepasang mata jealous mengawasi kami. Jadi dia kalau mengobrol saat Denis tidak di kamar atau ketika ada banyak orang. Yang aku heran dari Elgo, mata kirinya masih saja diperban seolah tidak punya harapan sembuh. Lama-lama aku akan menghadiahinya tutup mata bajak laut.