Lima belas menit kemudian aku tiba di base camp. Aku menatap motor kesayanganku ini, sudah lama tidak
kupakai, sejak Denis rutin mengantar-jemputku. Tempat ini kelihatan sepi, biasanya
dari luar sudah terdengar suara gaduh anak-anak. Wawan ada di ruang tamu, dia
sedang asyik dengan laptopnya. Herannya di cuaca sedingin ini dia malah
telanjang dada, dengan celana panjang training.
“Akhirnya datang juga,” kata Wawan tampak senang melihatku.
“Sini, buruan bro!”
Aku melepas jaket dan langsung duduk disebelah Wawan. Pemuda
itu membuka sebuah halaman yang menampilkan sebarisan artikel.
“Konon mereka udah ada dari jaman penjajahan Belanda,” kata
Wawan membacakan. “Orang-orang yang menjual jiwa mereka demi kekuasaan,
kekayaan dan keabadian. Orang-orang itu menamai diri mereka ‘Ksatria’, mereka
punya andil dalam sejarah RI, namun tidak banyak orang yang tau. Ksatria adalah
sekte yang sangat kuat, seperti beruang dan mereka tidak terlihat namun ada,
seperti hantu.”
“Sekte ini sempat dibinasahkan oleh pengikutnya sendiri dan
hilang ditelan zaman,” giliran aku melanjutkan. “Namun pimpinannya masih hidup,
dan mencoba membangkitkan kembali kekuasaannya. Dari sinilah cikal bakal
terbentuknya Beruang Hantu.”




