Senin, 15 September 2014

Pulang



:: Part 1 ::


“Saya mau beli yang itu mbak!” ujarku kepada seorang pramuniaga toko handphone.

Mbak pramuniaga itu menoleh, lalu tersenyum saat melihatku. “Oalah, jadi mas yang ini?”

“Jadilah,” sahutku. “Udah sering ngeliat, nanya-nanya, megang-megang. Masak nggak jadi?”

Dia pun mengangguk kemudian menyiapkan pesananku. Sempat kulihat namanya Sherli dari ID Card-nya.

 

Setelah transaksi, akhirnya satu unit iPhone 5S gold bisa kubawa pulang. Sebelumnya aku memang sering mampir ke toko ini, melihat-lihat ponsel itu. Sampai pramuniaga yang bernama Sherli itu mungkin hafal wajahku. Harganya mahal memang, tapi untungnya Sherli memberi tahuku untuk promo akhir tahun. Lumayan kan?

“iPhone-nya buat mas?” tanya Sherli saat pengetesan unit.

“Bukan, buat pacar saya,” jawabku.

“Wah, beruntung banget ya pacar mas. Dibeliin iPhone,” celetuk Sherli sambil tersenyum seolah membayangkan.

Aku cuma tersenyum.

 

“Nggak sekalian, mas. Cover-nya? Kita ada yang Hello Kitty, back cover gambar Eiffel. Favoritnya cewek?” tawar Sherli.

“Nggak deh mbak, pacar saya nggak bakal suka,” jawabku terdiam sebentar memberi efek dramatis sambil menatap mata Sherli. “Soalnya dia cowok.”

“Oh,” gumam Sherli pelan dan tertegun selama beberapa detik. “Oke deh mas.”

“Anti goresnya aja,” tambahku.

 

Aku ingin tertawa melihat reaksi Sherli. Kutimang-timang lagi ponsel berbalut keemasan itu. iPhone ini akan jadi kado ulang tahun termanis untuk Bobby, besok. Bobby tidak pernah meminta, tapi aku tahu dia sangat menginginkannya. Padahal sebentar lagi iPhone 6 akan rilis, tapi Bobby kekeuh memfavoritkan iPhone 5S. Entah apa alasannya. Atau bahkan saat kubelokan ke ponsel Android, dia masih tetap dengan produk berlambang apel groak itu.

 

“Anti goresnya biar saya sendiri yang pasang,” ujarku saat Sherli berniat membuka pack-nya.

“Oke,” sahutnya. Dia merapikan ponsel itu sampai benar-benar rapi. “Terima kasih telah berbelanja di XYZ shop, ditunggu kembali kedatangannya.”

Kulemparkan senyum sebelum pergi kepada Sherli, kulihat masih ada seraut shock di wajahnya.

 

Sambil jalan menuju parkiran, aku telpon Bobby. Sambil kulirik arloji, sekarang jam enam. Apa dia sudah pulang kuliah? Setelah beberapa nada “tut” akhirnya panggilanku diangkat.

“Halo Yang, ada apa?” tanya Bobby.

“Hai, sweetheart! Kamu udah pulang?” tanyaku.

“Udah,” sahut Bobby. Suaranya terdengar seperti orang habis kerja rodi.

“Kok kamu kayak ngos-ngosan gitu, Yang?” tanyaku. “Abis nguli ya?”

“Aku lagi beres-beres kamar ini,” jawab Bobby.

“Oalah,” ujarku. “Yaudah, aku kesana deh.”

“Oke,” jawab Bobby.

Telepon selesai tepat saat aku tiba di depan motorku. Aku segera bergegas, kusempatkan beli beberapa cemilan sebelum ke kostan Bobby. Tidak lupa kusembunyikan hadiah itu di kantong rahasia ranselku.

 

Kostan Bobby berada di kawasan padat yang rawan macet. Apalagi kebanyakan pengguna jalan itu manusia bermental orang susah. Tukang serobot, tidak sabaran, hobi klakson, tidak tahu aturan, egois. Ya, tapi kemunculan manusia-manusia itu tidak setiap saat. Setelah parkir di halaman, aku segera menuju lantai dua ; kamar di pojok lorong. Pintunya setengah terbuka.

 

Aku mengendus diriku, parfumku sudah cukup semerbak untuk radius dua meter.

“Selamat sore,” sapaku sambil mengetuk pintu.

“Waalaikum salam!” sahut Bobby, sedang mengangkat dos besar ke tumpukan. Anak itu menoleh ke arahku.

Keringatnya mengucur deras, membasahi wajah dan kaos singlet yang dia kenakan. Sekilas dia seperti kuli bangunan dekil, tapi di mataku Bobby terlihat seksi.

“Kerja keras banget, bro?” gumamku sambil melihat kamar Bobby yang berantakan.

“Lumayan,” sahut Bobby sambil menyeka keringat di dahinya. “Udah lama nggak beres-beres.”

“Aku bawa pisang bakar keju kesukaan kamu,” ujarku sambil menunjukan bungkusan di tanganku.

“Mantap!” ujar Bobby sumringah.

 

“Mandi dulu gih, baru kita makan di teras!” ujarku.

“Tanggung, aku cuci tangan aja!” kata Bobby lalu bergegas ke kamar mandi.

“Aku ke teras duluan ya,” kataku, lalu menuju teras.

Sebenarnya lebih tepat disebut beranda, karena biasa dipakai untuk menjemur baju para penghuni kost. Tapi posisinya bagus dan ada dahan pohon mangga yang menjorok ke teras.

 

Pemandangan di teras adalah jemuran celdal, boxer, singlet sampai kaos butut. Tapi penghuni kost punya inisiatif dengan meletakan meja bekas dan sofa butut yang masih bagus disana. Lumayan kan buat nongkrong sambil memetik buah mangga. Jam segini penghuni kostan masih terjebak macet di jalan, jadi tidak akan ada yang minta icip.

“Tumben-tumbenan nih?” Bobby tiba-tiba duduk di sebelahku. “Katanya kamu lagi sibuk?”
“Sibuk sih,” sahutku sambil mengambil satu pisang dan kusodorkan ke mulut Bobby. “Tapi aku kangen, mau ketemu my sweetheart.”

Co cweet-nya,” sahut Bobby sambil mengunyah.

 

Namaku Arphan , pegawai di usaha kecil-kecilan milik keluarga. Yang sekarang sedang dalam misi membawa usaha tersebut ke kancah internasional. Hidupku sederhana, tidak bergelimang harta tapi selalu cukup. Sebaliknya dengan pacarku ini, dia memang berasal dari keluarga berada. Bobby Satrio Adhiyasa, anak tunggal keluarga ningrat di Depok. Sebenarnya Bobby punya dua orang adik perempuan, tapi mereka semua meninggal saat masih kecil. Jadilah dia anak semata wayang yang akan mewarisi kekayaan orang tuanya.

 

Eits! Aku memacari Bobby bukan untuk uangnya! Aku benar-benar tulus mencintai Bobby. Keluargaku itu punya kebiasaan, kami cuma jatuh cinta sekali seumur hidup. Dan bisa dibilang Bobby adalah pertama dan terakhir. Cinta monyet jaman sekolah tidak dihitung.

“Aku sayang kamu,” bisikku kepada Bobby.

Anak itu terdiam sebentar, kunyahannya memelan. Dia menatapku lurus-lurus. Kami saling menatap seperti dua makhluk mau kawin. Bobby tersenyum simpul.

“Udah lama aku nggak ngedenger kata-kata itu,” ujarnya.

“Hahaha,” sahutku. Aku ingat dulu dia memintaku agar tidak terlalu sering mengucapkan “I Love You”. Waktu awal-awal pacaran aku memang agak berlebihan. Maklum waktu itu kan pertama kalinya aku pacaran.

 

Bobby pemuda tampan yang berkulit putih bersih. Apalagi badannya “jadi” hasil nge-gym sejak SMA. Apalagi perawakannya macho dan cool. Tak akan ada yang menyangka bahwa dia gay. Apalagi dia bottom. Sebaliknya aku yang terlihat biasa saja, bahkan cenderung tukang ngambek adalah yang top. Banyak yang bilang kami pasangan yang unik. Karena tidak seperti pasangan gay lazimnya.

 

Kan ada rumusnya:

Top+Bot= Cocok

Top+Top= Nggak Pantes

Bot+Bot= Lesbi

Tapi aku sendiri sih merasanya top. Atau vers?

 

“Gimana kuliahmu?” tanyaku sambil membelai rambut Bobby.

“Lancar,” sahut Bobby menyomot lagi pisang kejunya. “InsyaAllah tahun depan wisuda.”

“Bagus!” kataku sambil mengancungkan jempol. “Biar cepat jadi sarjana kebanggaan mama-papa.”

Bobby mengangguk tersenyum. Dia lalu menyandarkan badannya ke bahuku.

“Dan kebanggaanku juga,” bisikku di telinganya.

Pisang keju bakarnya sudah habis, Bobby pasti lapar sekali. Kami berdua terhanyut dalam hening, menikmati semilir angin yang sesekali membelai kami. Momen seperti ini jarang sekali bisa kami dapatkan. Well, sejak kami berdua sama-sama sibuk.

 

“Bantuin aku yuk! Tinggal beresin dus-dus aja,” kata Bobby seraya bangkit.

Tak lama terdengar bunyi beberapa motor masuk ke halaman. Sepertinya para penghuni kost sudah mulai berdatangan.

“Sama ngerapihin kamar,” tambah Bobby.

“Oke,” sahutku. Sekalian olah raga.

Pertama angkat-angkat dus ke area pembuangan, sedang Bobby merapikan kembali perabotannya. Lalu kami bersama-sama bersih-bersih. Setengah jam baru selesai, aku dan Bobby duduk bersandar di tembok. Menguras tenaga juga. Untung aku bawa dua botol minuman segar, lumayan kan untuk melepas dahaga.

 

Keringatku mengucur deras, bajuku lepek.

“Aku mau mandi, Yang,” ujarku.

“Bareng yuk!” ajak Bobby sambil tersenyum mesum. “Udah lama kan?”

Aku pun tersenyum lebar. Kalau begini yang ada mandinya nggak selesai-selesai.

 

OoO

 

Cahaya matahari yang hangat membangunkanku. Cahaya yang menembus dari jendela kamar. Aku membuka mata dan mendapati diriku berada di kamar Bobby. Terbaring hanya berbalut selimut putih kebiruan. Semalam kami tempur habis-habisan.

 

Bobby meninggalkan note, dia harus berangkat kuliah pagi-pagi. Baiklah, aku tidak keberatan. Aku garuk-garuk kepala sambil mengumpulkan nyawa. Aku melirik ranselku, seharusnya semalam aku berikan hadiah itu. Semalam kami terlalu asyik mendaki puncak kenikmatan.

 

Kupungut celana boxer-ku, aku pemanasan kecil sembari meregangkan ototku. Tak sengaja aku menendang dus di kursi belajar Bobby, sampai isinya jatuh berhamburan.

“Astaga,” gumamku. “Bikin perkara aja lu, Phan!”

 

Aku membereskan kembali isinya ; yang terdiri dari buku-buku lama. Sebagian buku pelajaran jaman SMA dan buku-buku tulis. Dari sekian benda-benda itu ada satu buku yang menarik perhatianku. Di lembaran pertama ada biodata Bobby, lengkap dengan foto 3x4 ala foto ijazah. Tadinya kukira ini buku penghubung, tapi ternyata buku harian. Cowok semaskulin Bobby bisa juga punya buku harian.

 

--12 November

Aku berhasil memenangkan lomba atletik.

Aku menang taruhan!!

Hilmi berjanji akan memberikan koin zaman Belanda miliknya

Sepasang koin emas kuno kebanggaannya

 

--28 November

Setiap Hilmi menginap, mama pasti masak enak

Obrolan di meja makan jadi terasa hidup

Adikku pun menyukainya, seperti abang sendiri

 

Sampai-sampai aku pernah merasa dianak tirikan

 

--5 November

Gatfan mengajakku main PS di rumahnya

Dia punya kaset-kaset limited edition yang sudah lama kuincar

Tadinya kami cuma main berdua, kemudian Irfan datang

 

Mulanya Gatfan menyodorkanku rokok, kemudian rokok ganja

Ditambah Irfan mencekokiku minuman alkohol

Lama-lama aku teler

 

Entah bagaimana ceritanya, Hilmi datang

Membawaku pergi dari tempat laknat itu

Kalau dia tidak datang, aku tidak tahu selanjutnya bagaimana

 

Hilmi pun mengomeliku, dia sudah sering menasihatiku agar,

Menjauhi Gatfan dan kawanannya

Aku menurut

 

--7 November

Aku memamerkan gambar-gambar waria dalam pose menggelikan

Niatnya ingin kubuat gambar parodi, tapi sebelumnya Kutunjukan

-kepada Hilmi supaya kita tertawa bersama

“Mereka benar-benar konyol! Ampun, najis banget!” ujarku

 

Hilmi cuma tersenyum

“Jangan menghina orang lain, nggak baik.”

“Tapi liat dah! Jijik banget lho. Bisa-bisanya Tuhan nyiptain

-manusia macam itu?”

“Kamu nggak boleh gitu, belum tentu kan kamu lebih suci dari

-mereka? Mereka kan juga nggak minta ditakdirkan kayak gitu.

Seandainya kamu yang jadi kayak mereka, dan diolok-olok gimana?”

 

Aku langsung diam, Hilmi selalu lebih bijaksana

Setelah itu kuhapus foto-foto itu

 

--25 November

Hari ini aku dan Novi double date dengan Hilmi dan Sari

Kami jalan ke Botani Square, makan-makan dan nonton film

Hilmi seperti sengaja pamer kemesraan

Dasar norak! Apa maksudnya coba?

 

--30 November

Seks pertamaku dengan Novi gagal

Siapa lagi pelakunya kalau bukan Hilmi?

Untuk apa dia menelponku pura-pura kecelakaan?

Aku benar-benar marah kepadanya

 

--4 Oktober

Hilmi tidak masuk beberapa hari ini

Usut punya usut karena dia putus dengan Sari

Sampai-sampai dia kabur dari rumah

 

Enggak tahu aku harus merasa senang atau sedih

 

--6 Oktober

Hilmi adalah sahabatku sejak kecil

Dia anak yang periang dan aktif, semua orang menyukainya

Bahkan karena berteman dengannya,

aku yang angkuh dan egois perlahan menjadi anak baik

 

Aku ingat dulu aku pernah jatuh ke kolam sedalam dua meter

Dan Hilmi yang menolongku,

aku berhutang nyawa kepadanya

 

--7 Oktober

Aku datang ke rumahnya

Dia ada disana, tidak seperti yang dirumorkan

Hilmi memang terlihat agak kuyu, kata ibunya dia sakit

 

Dia senang melihat kedatanganku

Seolah sakitnya sembuh mendadak

Aku memutuskan menginap di rumahnya

 

--12 Oktober

Hubunganku dengan Hilmi kembali seperti biasa

Dia tetap sahabatku yang sok-sokan berlagak jadi abangku

Sosok populer dan anak emas guru

Ya, itulah Hilmi

 

Sampai suatu hari Sari memperingatiku agar menjauhi Hilmi

Dia bilang sahabatku itu faggot alias homo

Dia bahkan membeberkan beberapa rahasia,

Yang seharusnya membuka mataku bahwa Hilmi menyukaiku

 

--27 Oktober

Hilmi mungkin sadar aku jaga jarak dengannya

Dia sampai menyeretku agar aku mau berbicara dengannya

Aku tidak berani menatapnya

 

Perasaanku campur aduk saat berhadapan dengannya

Rasanya ingin kabur saja, tapi aku sadar

Kabur itu bukan jalan keluar

 

“Aku mohon sekali, besok ikut aku. Kita bicara empat mata

-di tempat yang lebih tenang.”

Aku tidak bisa menolak

 

--28 Oktober

Hilmi mengajakku ke sebuah situ daerah Cibinong

Kami duduk disana

 

“Sari cerita sesuatu ya ke kamu?” tanyanya.

Aku tidak menjawab.

“Itu betul, aku memang suka kamu sejak dulu. Dan itu juga

-salah satu alasanku putus dari Sari. Aku bosan membohongi diriku

-sendiri. Kalau situasinya begini, apa kamu masih mau bersahabat denganku?”

Aku masih tidak menjawab.

“Kayaknya nggak ya?” sahut Hilmi sambil garuk-garuk kepala.

“Maaf ya aku jadi menodai persahabatan ini. Ini salahku.”

Aku bahkan tidak menatap matanya, pandanganku lurus ke arah air

“Hei, ngomong sesuatu lah. Seburuk itukah aku di matamu?”

 

Aku cengkram pergelangan tangan Hilmi, kutatap tajam dia.

“Kamu suka aku? Kamu menginginkan ‘itu’ kan? Ayo kita lakukan!”

“Hei, ini bukan soal...”

“Kita cari hotel terdekat, puaskan hasratmu! Setelah itu menjauh

-dari hidupku!”

 

--2 Desember

Malam itu, dia benar-benar melakukannya

Yang aku rasakan hanya kosong Hingga saat klimaks

dia membisikan, “aku mencintaimu tulus.”

Aku merasakan gejolak di hatiku, tapi aku berusaha menampiknya

Hilmi benar-benar menjauh

 

Kemudian datang kabar bahwa Hilmi dan ibunya pindah ke Manado

Aku seketika blank

Dan rasa menyesal menyembur deras bak lumpur lapindo

 

--5 Desember

Aku bahkan tidak sempat mengucap selamat tinggal

Kami berpisah dengan cara yang buruk

Aku menyesal, sangat menyesal!

 

OoO

 

Aku menyesal membaca buku ini. Tapi aku penasaran ingin mengetahui ending buku harian ini. Buku harian adalah privasi, sekalipun itu milik Bobby. Aku berusaha meletakan kembali buku itu ke dalam dus.

¯ Standing in the hall of fame, And the world's gonna know your name
Cause you burn with the brightest flame
¯

Ponselku berdering ; Bobby menelpon.

“Iya, Yang?” sapaku.

“Kamu udah bangun?” tanya Bobby. “Jangan lupa sarapan!”

“Oke, my sweetheart!” sahutku. Rasanya hatiku bahagia sekali, Bobby seperhatian ini. Kurasa seks semalam berhasil. “By the way, hari ini jadwal kamu apa aja?”.

“Ada tugas kelompok, presentasi materi sama ketemu dosen pembimbing,” jawab Bobby.

“Wow, sibuk ya?” gumamku garuk-garuk dagu. “Nanti aku jemput kamu ya, jam delapan.”

 

“Mau ngapain?” tanya Bobby.

“Mau merayakan hari spesial kamu lah!” ujarku dengan semangat. “Aku nggak akan melewatkan momen ini.”

“Baiklah,” sahut Bobby. “Aku pegang omonganmu, Yang.”

“Oke, komandan!”

 

Otakku berputar untuk segera menyiapkan sederet rencana. Aku ingin Bobby mendapatkan pengalaman tak terlupakan sesi kedua. Aku melirik lagi buku harian itu, ku urungkan niatku untuk melihat ending-nya. Aku langsung memesan kamar hotel di daerah Blok M, lalu melihat-lihat daftar restoran paling enak. Tapi kalau kupikir-pikir lagi, banyak kok tempat makan biasa yang menawarkan makanan yang tak kalah enak. Warung bakso di Pejaten, mie ayam di Ciganjur atau ayam bakar di Cililitan.

 

Aku langsung bangkit, tidak sabar rasanya untuk sampai jam delapan. Seharusnya hari ini aku sudah ada di kantor (a.k.a rumah). Tapi tak apalah, toh ada abangku ini yang akan mem-backup. Aku bergegas mandi dan berpakaian. Jadwalku hari ini adalah rapat dengan beberapa rekanan lalu meninjau tambak udang di Depok.

 

Banyak yang bilang hubungan sesama jenis tak akan ada yang awet. Salah satu pasangan selingkuh lah, memutuskan normal lah, dipaksa menikah. Hubungan yang normal saja tidak sedikit yang kandas. Tapi kali ini aku tulus mencintai Bobby. Aku akui, beberapa bulan belakangan aku terlalu sibuk merintis ulang usaha keluargaku. Beberapa kali aku kehilangan momen dengan Bobby. Dan Bobby masih memaafkanku.

 

Mungkin dia balas dendam dengan sibuk dengan kuliahnya. Ah, tapi itu cuma pikiran negatifku saja. Dia memang dalam semester terakhir dan sibuk mengurus skripsinya. Namun sesibuk-sibuknya aku, pasti akan menyempatkan waktu mengontak Bobby. Meski sekadar bilang halo atau obrolan singkat.

 

Teman-temanku banyak yang bilang, aku termasuk beruntung bisa mendapatkan Bobby. Bot manly itu amat sangat langka. Cuma orang-orang terpilih yang bisa memiliki mereka. Seharusnya aku sujud syukur dan menyantuni seratus anak yatim sebagai tanda terima kasihku.

 

Aku ingat pertemuan pertama kami adalah di rumahku sendiri. Saat itu Bobby dan dua kawannya sedang survey lapangan tentang industri UKM. Keluargaku adalah pengrajin udang. Kami menyediakan udang mentah, dan juga mengolahnya menjadi kerupuk, rempeyek atau kremes. Bobby adalah ketua kelompok survey itu, dia jadinya yang paling sering kontak-kontak denganku. Ngobrol sambil ngopi, melihat pembuatan kremes, melihat tambak udang. Bahkan Bobby membantu memasarkan kremes udangku ke kampusnya. Sejak saat itulah kami jadi dekat.

 

Aku mampir sebentar ke toko kado sebelah rumah, beli kertas kado sekalian membungkus iPhone untuk Bobby. Saking semangatnya, tak terasa pekerjaanku hari ini tuntas. Abangku sampai heran melihatku. Dan sebelum berangkat, kupastikan penampilanku sudah keren.

 

Semesta sedang mendukungku, aku tiba sejam lebih awal dari waktu janjian. Tadinya kupikir jalanan akan macet parah. Ya, tak apalah! Sekalian mengatur rencana. Aku keliling-keliling sebentar sambil iseng mencari Bobby. Meski malam begini, kampus ini tetap ramai. Sayang, aku tidak akan merasakan hal-hal seperti ini. Otakku sudah terlalu penuh untuk dijejali pelajaran lagi.

 

Lalu aku berhasil menemukan Bobby. Dia berada di lorong sedang mengobrol dengan kawannya. Aku menepuk tanganku ala kode memanggil orang jarak jauh. Mereka menoleh ke arahku, kawannya pergi sedangkan Bobby menghampiriku.

“Katanya jam delapan?” tanya Bobby seperti petugas investigasi.

“Aku kira macet, ternyata Tuhan berkehendak lain,” sahutku sambil nyengir. Kukeluarkan kado dari ranselku. “Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun. Selamat ulang tahun Bobby!”

Raut wajah Bobby langsung sumringah.

 

“Apa ini?” tanyanya sambil mengguncang-guncang kado itu.

“Buka dong!” ujarku sambil tersenyum.

Bobby membuka kadonya dengan semangat. Wajahnya semakin sumringah saat melihat isi kadonya.

“Ini serius?” tanyanya, dengan ekspresi campur aduk.

“Seriuslah!” kataku sambil menepuk bahunya. “Buat penyemangat kamu menjelang skripsi. The best for my lovely best.”

Seandainya disini bukan tempat umum, aku yakin Bobby akan memelukku erat-erat. Tapi aku memberi kode untuk pindah ke “tempat yang lebih tenang”.

 

“Oh, iya! Yang tadi siapa? Kayaknya aku belum pernah lihat?” tanyaku.

“Anak fakultas sebelah,” jawab Bobby.

“Siapa namanya?” tanyaku.

“Hilmi.”

 

 

 

Minggu, 28 Juli 2013

Hidangan Makan Malam


Namaku Zai, cukup itu saja karena aku hampir tidak ingat nama panjangku. Kalau aku tanya Elgo pasti dia akan ingat. Tapi aku tidak ingin tau, biar saja begini. Toh tak ada yang peduli juga. Aku tengah berdiri dengan sedikit membungkuk bertumpu di selusur beranda. Seperti biasa aku sedang mengamati bulan yang terlihat begitu indah.

Sedangkan dibawah sana, anak-anak kos yang terdiri dari mahasiswa dan orang kerja tengah seru-seruan. Sedikit berisik tapi tidak sampai level mengganggu, mereka tau aturan utama tempat ini. Aku ingin bergabung tapi aku merasa sudah terlalu tua untuk have fun. Tidak usah tanya berapa usiaku, aku sendiri lebih merasa seperti bapak-bapak. Masih mendinglah daripada Yeni yang sudah sesepuh.

Sepertinya bulan pun sudah bosan kupandang lirih, aku berbalik menuju ruanganku. Sebuah ruangan di paling ujung bangunan, bukan tempat istimewa sih cuma sebuah ruangan dengan piano. Piano tua pemberian ayahku namun masih berfungsi dengan baik. Setelah kukunci pintu segera saja aku beraksi, tapi sayang lagu yang aku bisa cuma Stairway To Heaven-nya Apocalyptica. Kata beberapa orang sih itu lagu pemujaan setan, tapi aku tidak peduli.

Alunan musik piano ini mulai berdentang, seperti jam besar yang berbunyi tiap jam 12. Aku menikmati waktu seperti ini sendiri saja. Sambil meresapi melodi lagu yang terkesan angker.
“Kamu selalu payah memainkan piano,” sebuah suara terngiang di telingaku seperti bisikan.
Aku berusaha mengabaikannya dan tetap konsentrasi konser, namun suara itu semakin lama semakin nyata. Membuatku semakin terganggu.
“Padahal ayahmu mantan musisi,” suara itu muncul lagi disertai suara derap langkah mendekat.
 Ku hentak seluruh jariku ke tuts piano, menghasilkan suara bang yang menggelegar. Aku masih tidak mau menoleh, kubiarkan saja dia datang menghampiri.

Senin, 08 Juli 2013

Catatan Usang si Bocah Tengil



Aku memandang sebuah kardus cokelat besar di lantai. Barangku tidak terlalu banyak jadi satu kardus saja cukup. Entah kenapa mataku masih belum beranjak dari benda kotak itu. Ingatanku masih terus membuka potongan-potongan kenangan, yang kini menyebalkan bagiku. Aku memutuskan membuat kopi susu lagi, masih menggunakan cangkir yang sama.

Kutatap sebuah bingkai foto Fajar yang lupa kumasukan. Ini adalah pertama kalinya aku begitu tergila-gila kepada laki-laki. Foto itu kuletakan diatas kardus cokelat supaya tidak lupa. Aku masih tidak percaya bahwa perasaan ini hanya pengaruh pelet.

Rabu, 03 Juli 2013

Project Dua (lembar dua puluh tiga)



Setelah tiga hari ini, kondisiku mulai membaik. Aku sudah bisa bergerak dan berjalan dengan leluasa, meski pandanganku sering nge-blur. Tapi ini perkembangan yang cukup bagus, begitu kata Zai. Well, sebenarnya ini tidak lepas dari peran Denis. Anak itu merawatku dengan sabar, telaten dan... cinta. Kedengarannya memang agak konyol, tapi itulah yang aku rasakan. Denis sedang mencoba membuktikan kata-katanya.

Perlu kugaris bawahi, tidak cuma Denis yang berperan tapi ada Zai, Elgo, Yeni, Zidan, Erni, Mala, Akbar dan lain-lain. Beberapa nama yang agak asing itu adalah saudara-saudaranya Elgo. Kalau aku sebut satu persatu akan menimbulkan deret silsilah keluarga, terlalu banyak. Mereka cukup ahli di bidang medis, bahkan yang namanya Zidan dan Erni kuliah jurusan kedokteran. Kedua orang tua Elgo juga sesekali menengokku (ya, iyalah! Ini kan rumah mereka). Bisa kusimpulkan mereka adalah orang-orang yang ramah dan baik.

Sekedar informasi, beberapa nama asing yang tadi kusebut adalah sepupunya Elgo. Mala dan Akbar diasuh orang tua Elgo sejak kecil. Orang tua mereka tergolong orang tidak mampu yang punya banyak anak. Secara tidak langsung keduanya jadi kakak dan adiknya Elgo, apalagi Elgo anak tunggal. Sedangkan rumah Zidan dan Erni tepat di sebelah rumah Elgo.

Elgo pun menyadari jika mengobrol denganku, akan ada sepasang mata jealous mengawasi kami. Jadi dia kalau mengobrol saat Denis tidak di kamar atau ketika ada banyak orang. Yang aku heran dari Elgo, mata kirinya masih saja diperban seolah tidak punya harapan sembuh. Lama-lama aku akan menghadiahinya tutup mata bajak laut.

Senin, 24 Juni 2013

Project Dua (lembar dua puluh dua)

android wallpaper

:: Fajar ::

Aku membuka mataku, rasa pening langsung saja menyerang kepalaku. Ah! Lagi-lagi membuka mata, seolah hobiku ini tidur, pingsan dan tak sadarkan diri. Kucoba gerakan jemariku, dan berhasil. Sekarang kedua kakiku, berhasil juga. Kondisi ini jauh lebih baik daripada yang terakhir diserang ular siluman. Tiba-tiba aku merasa tubuh ini berat, seperti ada beban yang menimpaku. Sedikit berat tapi aku merasa nyaman.

Kurasa bukan beban yang ditimpakan ke tubuhku, tapi ada seseorang yang sedang memelukku. Erat sekali. Pelukan yang sangat aku kenal, bahkan aku tidak asing dengan aroma tubuhnya. Aku memicingkan mataku, pandanganku masih agak samar dan telingaku juga sedikit berdengung. Pelukan ini perlahan mengendur dan aku bisa melihat orang yang tadi memelukku.
“Denis,” gumamku, mulutku bergerak tanpa mengeluarkan suara.