Rabu, 22 Mei 2013

Project Dua (lembar sembilan)



Lima belas menit kemudian aku tiba di base camp. Aku menatap motor kesayanganku ini, sudah lama tidak kupakai, sejak Denis rutin mengantar-jemputku. Tempat ini kelihatan sepi, biasanya dari luar sudah terdengar suara gaduh anak-anak. Wawan ada di ruang tamu, dia sedang asyik dengan laptopnya. Herannya di cuaca sedingin ini dia malah telanjang dada, dengan celana panjang training.

“Akhirnya datang juga,” kata Wawan tampak senang melihatku. “Sini, buruan bro!”
Aku melepas jaket dan langsung duduk disebelah Wawan. Pemuda itu membuka sebuah halaman yang menampilkan sebarisan artikel.

“Konon mereka udah ada dari jaman penjajahan Belanda,” kata Wawan membacakan. “Orang-orang yang menjual jiwa mereka demi kekuasaan, kekayaan dan keabadian. Orang-orang itu menamai diri mereka ‘Ksatria’, mereka punya andil dalam sejarah RI, namun tidak banyak orang yang tau. Ksatria adalah sekte yang sangat kuat, seperti beruang dan mereka tidak terlihat namun ada, seperti hantu.”
“Sekte ini sempat dibinasahkan oleh pengikutnya sendiri dan hilang ditelan zaman,” giliran aku melanjutkan. “Namun pimpinannya masih hidup, dan mencoba membangkitkan kembali kekuasaannya. Dari sinilah cikal bakal terbentuknya Beruang Hantu.”

Senin, 20 Mei 2013

Project Dua (lembar delapan)



Hari ini agendaku meeting di tempat yang sangat jauh. Aku harus bangun lebih awal dan berangkat sangat pagi. Tapi rupanya Denis bangun lebih dulu daripada aku. Denis sudah menyiapkan semua peralatanku di dalam tas, tapi aku cek lagi, mencoba lebih waspada.

Dan benar saja, Denis menyiapkan ATK “unyu” ala anak ingusan, seperti pensil Barbie, pulpen Ultramen, penggaris Dora The Explorer dan penghapus Hello Kitty. Saat kupelototi dia cuma pasang muka tidak berdosa. Tidak mau berdebat, kami langsung berangkat. Denis memakai mobil, dia sungguh setia menemani dan mengantarku kemana saja, persis anjing kepada tuannya (perumpamaanku yang ini sungguh kejam).

Semalam aku sudah memberitaunya tentang meeting ini, dan kusarankan agar tidak ikut. Lalu dengan jumawa dia menjawab:
 “Gue ikut, lu harus tetap dalam pengawasan gue!”
Tidak mau berdebat panjang, aku sabodo teuing saja. Aku dan timku berangkat dengan mobil kantor, dia kusuruh untuk mengikuti dari belakang saja. Aku tidak mau satu mobil dengannya.

Aku menjelaskan kepada pak Todi tentang Denis, kubilang saja dia pengawalku. Atasanku itu malah menawarkan Denis untuk ikut mobil kantor, tapi aku bilang, Denis lebih nyaman di mobilnya. Setelah itu kami berangkat, jam setengah enam lewat lima. Perjalanan ini akan lumayan makan waktu, karena itu pak Todi mempersiapkan snack pengganjal perut. Lumayan deh, tadi mana sempat sarapan?
Lalu aku teringat Denis, dia kan juga belum sarapan. Dan dia tidak kebagian snack ini. Ah, biar sajalah, dia kan tentara, pasti kuat.

Meeting kali ini di dekat pelabuhan Merak, kata atasanku disana head office klienku. Tempatnya sih cukup nyaman, dan bisa melihat ke arah laut. Pertemuan ini berjalan alot dan terasa panjang. Klien yang ini permintaannya banyak, belum lagi syarat ini-itu. Udah kayak operator aja, pikirku. Bos-nya pun sering kali menyinggung soal aset perusahaan, kekayaan pribadi serta nama perusahaannya yang sudah terkenal di luar negeri. Yang seperti ini nih, tipe bos yang paling enak untuk digosipi. Untung saja pak Todi sudah cukup berpengalaman menghadapi berbagai macam orang. Tadinya kupikir klien yang ini tidak jadi kerja sama, tapi nyatanya dia setuju. Dia malah memuji-muji perusahaanku.

Minggu, 19 Mei 2013

Project Dua (lembar tujuh)





Hari ini jadwalku padat, selesai kuliah ada tugas kelompok dan dilanjut mendekorasi aula kampus untuk PENSI. Kemarin-kemarin aku terlalu sibuk dengan “agenda pribadiku”, untuk menebusnya maka aku membantu kawan-kawan mendekorasi meskipun sampai malam. Aku sudah bilang kepada Denis agar tidak menungguiku. Sekali-sekali aku ingin bebas tanpa diganggu orang itu. Sampai-sampai aku ke kampus naik angkot.

Jam empat sore aku balik ke kampus. Teman-temanku yang panitia PENSI tampak sibuk, mereka senang melihat kedatanganku, seolah aku adalah solusi masalah mereka.
“Tumben lu nggak sama Denis?” tanya Ilyas. Dia kebetulan satu kampus juga denganku, dan ikut mendekorasi.
“Gue suruh rehat dulu,” sahutku cuek.
“Keren itu orang,” kata Ilyas lagi.
“Keren darimananya?”
“Penampilan, gaya ngomong, cara berpikir dan kepribadiannya,”
“Nggak sekalian aja lu pacarin?”
“Bego lu, kagum ama naksir itu beda!” Ilyas menoyorku. “Lagian mestinya lu bangga punya sepupu keren kayak dia.”
“Yang keren kan dia, bukan gue,” sungutku.
“Fajar, Fajar,” Ilyas menggeleng-gelengkankepala. “Nggak dewasa-dewasa lu, ya?”

Kamis, 16 Mei 2013

Project Dua (lembar empat)




Sesuai janji aku diantarkan ke tempat teman-temanku, dengan menggunakan mobil berplat pemerintah. Teman-temanku pasti sudah menghabiskan setengah dari jatah yang tersedia. Dan menyisakanku yang kecil-kecil. Pembicaraan yang terasa singkat dengan Indra ternyata makan waktu yang cukup panjang.
“Gue nggak nyangka bakal ketemu lu lagi,” kata Denis yang sedang menyetir.
Yang paling menyedihkan dari sesi ini adalah, Denis yang mengantarku. Beberapa kali dia menatapku dengan tatapan sinis. Sepertinya dia sedang merencanakan aksi balas dendam.

“Daun kelor terkadang bisa selebar panggung sandiwara, nak,” sahutku sok tua. Aku bertopang dagu menatap ke luar jendela. Sebelumnya Denis memaksaku untuk duduk di bangku sebelah kemudi. Katanya, dia tidak mau disangka supir. Beberapa kali aku memergokinya sedang memperhatikanku, mungkin dia sedang mengagumi ketampananku.

Dan seperti yang sudah kuduga, Denis benar-benar mengerjaiku. Dia sengaja memilih rute memutar yang makan waktu, alasannya sih supaya tidak masuk ke jalur macet. Apa dia tidak tau bahwa tidak ada jalur di Jakarta yang tidak macet, dia tidak pintar mencari alasan. Kemudian aku tiba di restoran saat semua teman-temanku sudah kekenyangan, yang tersisa hanya salad yang berantakan. Aku cuma bisa menatap piring-piring yang tandas itu sambil pasang muka orang kekurangan ion. Kesialanku belum selesai, Denis bilang dia akan tinggal di tempatku, karena tugasnya adalah menjagaku. Bahkan orang-orang itu telah mengatur semuanya, termasuk berkonspirasi dengan ibu kos.

Selasa, 14 Mei 2013

Project Dua (lembar tiga)



:: Denis ::


Aku terbangun dari tidur yang tidak nyenyak, badanku terasa sakit semua. Mataku sudah terbuka tapi nyawaku masih belum berkumpul. Nalarku mencoba menelaah keberadaanku, yang jelas aku tidak sedang di kamarku atau di ruang tidur kantor. Langit-langitnya berwarna biru cerah, persis langit asli dan alas yang kutiduri terasa lebih dingin. Perutku terasa gatal, seperti ada serangga yang menghinggapi, aku mengarahkan tanganku ke sumber rasa gatal. Benar saja, rupanya ada semut disana. Tunggu sebentar, aku perutku sama sekali tidak berlapiskan apa-apa.

Kupaksakan kesadaranku untuk pulih, lalu kutekuk lengan kananku sehingga posisi punggungku sedikit lebih tinggi. Mataku yang masih kabur mencoba melihat keadaan.
“Oh, tidak!” gumamku. Ternyata yang semalam memang bukan mimpi.